JARGON DAN ANAK MUDA
MADURA
Dewasa ini, sering kita
temui istilah atau kata yang asing didengar oleh telinga kita, istilah dan kata
yang kita dengar itu bukan menjadi rahasia umum yang akan menjadi perbincangan hangat
di kalangan masyarakat. Akan tetapi, istilah atau kata tersebut hanya
dimengerti oleh segelintir orang atau kelompok yang menggunakannya. Masyarakat
yang menggunakan istilah dan kata yang hanya dimengerti oleh kelompok itu
disebut masyarakat bahasa, yang menurut corder (Sabarti. 2004:8) masyarakat
bahasa adalah sekolompok orang yang satu sama lain bisa saling mengerti sewaktu
mereka berbicara.
Bahasa atau kata yang hanya dimengerti oleh golongan atau sekelompok tertentu
itu juga dikenal dengan istilah jargon dalam ilmu kebahasaan, yang berdasarkan
kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), jargon adalah kosakata khusus yang
digunakan dibidang kehidupan (lingkungan) tertentu. Menurut A. Chaer dan L.
Agustina (2010:68) yang penulis kutip dari situs seorangrahmat.blogspot.com
menjelaskan bahwa jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas
oleh kelompok-kelompok sosial tertentu
Jargon dalam penggunaannya dapat kita amati pada saat remaja sedang berbicara,
entah remaja itu dari desa maupun dari kota, yang notabennya mereka mempunyai
jargon-jargon tersendiri dalam lingkungannya. Tidak luput dari itu Madura juga
mempunyai jargon khas yang membedakan jargon itu dari daerah lain. Salah satu
jargon yang dapat kita temui, yaitu ketika remaja menyampaikan suatu cerita
atau pendapat kepada teman-temannya. Oleh karena itu, menurut Setianti
(2007:16), jargon merupakan alat untuk beriteraksi atau alat untuk
berkomunikasi kelompok, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan,
konsep atau perasaan yang keberadaannya seringkali membuat orang yang mendengar
bingung akan arti yang sebenarnya.
Ada beberapa contoh jargon yang dapat kita temui sehari-hari jika kita pergi
kesuatu daerah yang berbeda, akan tetapi kita tidak tahu apa arti dari kata
tersebut, dan berikut ini penulis mencoba memberikan sedikit contoh sekaligus
penjelasan tentang penggunaan jargon dikalangan anak muda madura .
v “Jih Mansur”. Adalah
seorang masyarakat biasa yang pernah menunaikan ibadah haji dan mendapat gelar
H. Moh. Mansur, yang untuk mempermudah panggilannya oleh masyarkat setempat
terutama bagi kalangan remaja (Ds. Pamoroh Kec. Kadur Kab. Pamekasan), gelar
sekaligus nama yang disandangnya di persingkat menjadi “Jih mansur”. Beliau
gemar membicarakan sesuatu yang berbau politik, seperti pemilihan bupati dan
kepala desa. Beliau juga sering memprediksi siapa pasangan calon yang bakal
menang dalam pemilihan tersebut. Seiring dengan kegemarannya dalam memprediksi
maka setiap orang dari desa tersebut yang merasa dirinya lebih tahu dari orang
lain dianggap oleh remaja setempat sebagai titisan atau duplikasi dari “H. Moh.
Mansur” atau yang akrap dipanggil sebagai “Jih mansur”. Contoh dalam penggunaan
kata tersebut adalah:
huh....jih
mansur rèh..!! (madura).
huh....dasar
jih mansur tukang prediksi..!! (indonesia)
v “Jih Sukwan”. Kata tadi
berasal dari desa yang sama yaitu (Ds. Pamoroh Kec. Kadur Kab. Pamekasan). Kata
tersebut mengandung arti julukan bagi seseorang yang mempunyai kenginan untuk
menunaikan ibadah haji dan sudah menyetorkan sebagian uangnya, akan tetapi
orang tersebut belum juga dipanggil atau belum mendapatkan giliran untuk
berangkat haji. Sukwan dalam kata “Jih Sukwan” mempunyai arti yang sebenarnya,
yaitu orang yang bekerja sebagai
buruh kontrak dan belum diangkat menjadi buruh tetap. Akan tetapi oleh remaja
setempat julukan tersebut diberikan bagi setiap orang yang menyetorkan sebagian
uangnya untuk naik haji dan orang tesebut belum mendapatkan giliran. Contoh
penggunaan istilah tersebut dalam realitanya adalah:
Wa’ abas jih sukwan lèbât èada’na bangko
(madura)
Itu liat jih sukwan lewat di depan rumah
(indonesia).
v “Ableyer”. Munculnya kata
atau istilah tersebut dikalangan kelompok anak muda pamekasan berawal pada saat
ketika anak muda disana yang gemar balap liar. Pada saat mendahului lawannya
mereka masih sengaja memainkan tuas gasnya hingga menimbulkan suara yang
mengaung, dan mereka menyebutnya dengan istilah “Ableyer”. Seiring dengan
penggunaan kata oleh kelompok anak muda yang semakin pesat, maka setiap orang
yang sedang berbicara kemudian salah satu lawan bicaranya menggunakan intonasi
yang tinggi “emosi”, maka oleh kelompok tersebut disamakan dengan bunyi
kenalpot (ableyer/mengaung). Contoh penggunaan kata atau istilah tersebut dalam
konteksnya adalah:
Yono : Ambu rah ba’na ta’ osa
bannya’ tanya....!!
Yani : dhina ta’ osa
ableyer kak (Madura)
Yono : Sudah lah kamu tidak
usah banyak tanya....!!
Yani : Ya sudah tidak
usah emosi kak (Indonesia).
v “Ripin” Terciptanya kata
tersebut berawal dari sekelompok mahasiswa STKIP yang hobinya ngegosipin atau
membicarakan orang lain tanpa orang tersebut menyadari bahwa dirinyalah yang
sedang dibicarakan. Istilah ripin sebenarnya digunakan untuk perempuan yang
menjadi objek pembicaraan mereka, semenjak saat itulah mahasiswa STKIP jurusan
PBSI kelas pagi – A ketika mereka sedang berkumpul, menggunakan istilah “Ripin”
sebagai identitas mereka pada saat mereka membicarakan perempuan yang dimaksud.
Contoh penggunaan istilah tersebut adalah:
Adduuuuuu
ya’ ripin cong lebur (Madura)
Aduuuuuhhhh
perempuan ini menarik (Indonesia)
Dari contoh dan penjelasan tentang jargon pada anak muda
Madura di atas, dapat diketahui bahwa Madura juga memiliki jargon, yang
penggunaanya di dalam artikel ini penulis mengangkat pada situasi anak muda.
Penpenulis ingin berbagi sedikit pengetahuan yang mendidik tentang suatu tata
kebahasaan yang selama ini mungkin telah kita abaikan keberadaannya. Penulis
mempunyai rasa penasaran tentang fakta yang terjadi disekeliling kita,
hingga pada akhirnya membuat penulis mengambil suatu tema yang terjadi di
masyarakat untuk dijadikan topik pembahasan dalam artikel karya ilmiah ini.
Semoga artikel karya ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi penulis sendiri.
Daftar pustaka
·
Akhdiah,
Sabarti. 2004. Pembinaan Kemammpuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta:
Erlangga
·
http//seorangrahmat.blogspot.com/2013/05apa-yang-dimaksud-slang-jargon-dan.html?=1 (Jam 11:37)
·
Setianti, Yanti.2007. Makalah Ilmiah: Bahasa Dalam
Merubah Sikap Sosial. Bandung: UNPAD